Jumat, 03 April 2009

Tesis

PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
GIZI KESEHATAN MASYARAKAT
Tesis, Agustus 2003

Uki Basuki

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Baduta (6-23 bulan) Pada Keluarga Miskin dan Keluarga Tidak Miskin Di Kota Bandar Lampung Tahun 2003

xv + 125 halaman, 34 tabel, 7 grafik, 2 gambar, 1 lampiran
ABSTRAK
Prevalensi gizi kurang bawah dua tahun (6-23 bulan) diasumsikan meningkat seiring dengan meningkatnya prevalensi gizi kurang pada bawah lima tahun (balita) di Kota Bandar Lampung dari 2,1% pada tahun 1997 menjadi 4,69% pada tahun 1999. Sejak pertengahan tahun 1997 sampai sekarang krisis ekonomi masih dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan mengakibatkan bertambahnya penduduk miskin. Bawah dua tahun merupakan periode growth spurt dimana growth failure sering terjadi pada periode ini. Sebagai salah satu sumber daya manusia pembangunan, maka faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan gizi baduta (bawah dua tahun) perlu dikaji sehingga keadaan yang lebih parah dapat ditekan seminimal mungkin.
Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baduta di Kota Bandar Lampung. Desain yang digunakan cross sectional, populasi adalah keluarga miskin dan keluarga tidak miskin punya baduta dengan unit analisis baduta umur 6-23 bulan. Pengambilan sampel dilakukan metode cluster, dan besar sampel minimal masing-masing tipe keluarga 94 sampel. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, umur, tingkat konsumsi (energi dan protein), status imunisasi, pemberian ASI, tingkat pendidikan ibu, kejadian diare, sumber air minum dan persepsi mengalami krisis ekonomi. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran dan penimbangan berat dan panjang badan baduta. Hasil recall 1x 24 jam dihitung nilai gizinya menggunakan soft ware Nutrisoft dan status gizi baduta dilihat berdasarkan nilai Z-Skor. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat dan multivariat.
Hasil uji beda antara keluarga miskin dan keluarga tidak miskin, ditemukan bermakna (p<0,05) pada status gizi indeks PB U, tingkat pendidikan ibu, dan status imunisasi. Adapun hasil uji beda nilai mean Z-Skor variabel bebas pada keluarga miskin ditemukan bermakna (p<0,05) pada variabel jenis kelamin dan umur (BB U), umur (PB U), jenis kelamin, umur dan sumber air bersih (BB PB). Sedangkan pada keluarga tidak miskin ditemukan kemaknaan pada variabel umur, tingkat pendidikan ibu dan status imunisasi (BB U), umur (PB U) dan umur dan status imunisasi (BB PB). Faktor dominan yang mempengaruhi status gizi (tanpa interaksi) indeks BB U adalah umur 6-11 bulan (OR = 0,3), indeks PB U adalah keluarga miskin (OR = 3,9), dan indeks BB PB adalah sumber air minum kualitas buruk (OR = 0,2).
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masalah gangguan pertumbuhan baduta di Kota Bandar Lampung bukan karena penyebab langsung melainkan oleh penyebab tidak langsung yaitu umur baduta, tingkat ekonomi keluarga dan sumber air minum keluarga. Oleh sebab itu sebaiknya dilakukan langkah-langkah strategis dari instansi terkait dalam upaya meningkatkan pendapatan keluarga dan pengawasan serta pengendalian sumber air minum yang baik.

Daftar bacaan : 86 (1986 – 2002)

Minggu, 01 Februari 2009

Riskesda Provinsi Lampung Tahun 2007

3.1 GIZI
3.1.1 Status Gizi Balita
Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0,1 kg, panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0,1 cm, dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0,1 cm. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Untuk menilai status gizi anak, maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut :
a. Berdasarkan indikator BB/U :
Kategori Gizi Buruk Z-score < -3,0
Kategori Gizi Kurang Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0
Kategori Gizi Baik Z-score >=-2,0 s/d Z-score <=2,0
Kategori Gizi Lebih Z-score >2,0

b. Berdasarkan indikator TB/U:
Kategori Sangat Pendek Z-score < -3,0
Kategori Pendek Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0
Kategori Normal Z-score >=-2,0

c. Berdasarkan indikator BB/TB:
Kategori Sangat Kurus Z-score < -3,0
Kategori Kurus Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0
Kategori Normal Z-score >=-2,0 s/d Z-score <=2,0
Kategori Gemuk Z-score >2,0

Perhitungan angka prevalensi :
Prevalensi gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100%
Prevalensi gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100%
Prevalensi gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100%
Prevalensi gizi lebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100%

a. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U
Tabel 3.1. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum, tidak spesifik. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita, tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut.
Dalam pembahasan kategori status gizi balita berdasarkan indikator BB/U sering digabungkan antara gizi buruk dan gizi kurang dengan menggunakan istilah gizi kurang+buruk. Status “sangat kurus” dan “kurus” berdasarkan indikator BB/TB digabung dengan menggunakan isitilah kurus+sangat kurus. Status “sangat pendek” dan “pendek” berdasarkan indikator TB/U digabung dengan menggunakan istilah pendek+sangat pendek.

Secara umum, prevalensi gizi kurang+buruk di provinsi Lampung adalah 16,5 % dan sudah mencapai target nasional perbaikan gizi tahun 2015 (20%) dan MDGs (18,5%). Dari 10 kabupaten/kota hanya ada 2 kabupaten yang belum mencapai target MDGs yaitu Kabupaten Tanggamus dan Lampung Utara. Di provinsi Lampung masalah gizi lebih sudah perlu diperhatikan. Secara umum, prevalensi balita gizi lebih sebesar 4,3 %. Ada 2 kabupaten/kota yang harus diwaspadai karena memiliki prevalensi gizi lebih mendekati 10%, yaitu kabupaten Lampung Timur, dan Bandar Lampung.

b. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U
Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek.

Prevalensi balita pendek+sangat pendek di Provinsi Lampung (40%) yang berarti di atas angka rerata nasional (36,8%). Dari 10 kabupaten ada 6 kabupaten yang memiliki jumlah balita pendek+sangat pendek di atas angka nasional, yaitu berturut-turut terdapat di Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Timur, Lampung Utara, Way kanan dan Tulang Bawang. Walaupun angka balita pendek+sangat pendek di Provinsi Lampung hanya 2,5% diatas angka rerata nasional, tetapi ada tiga kabupaten (Lampung Barat, Lampung Timur dan Way Kanan) yang menunjukkan tingginya masalah balita pendek, karena kabupaten tersebut memiliki prevalensi pendek+sangat tinggi diatas 20%.

c. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB

Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek, seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus.
Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut, indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker).
Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3,0 SD.
Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10,1% - 15,0% , dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15,0% (UNHCR).


Secara umum, prevalensi balita kurus+sangat kurus di provinsi Lampung adalah 13,6%, dan sudah berada diatas kondisi yang dianggap serius (10%). Walaupun demikian dari 10 kabupaten/kota di provinsi Lampung ada 8 kabupaten/kota yang berada pada keadaan serius menurut indikator status gizi BB/TB, yaitu: Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, Bandar Lampung dan Metro.
Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita. Pada Prevalensi kegemukan di provinsi Lampung adalah 15,9%. Delapan kabupaten memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional (>12,2%) yaitu kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Utara, Way Kanan, Tulang Bawang, dan kota Metro.

d. Status gizi balita menurut karakteristik responden
Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U, TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan KK, pekerjaan KK, Tipe daerah dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas), telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.
Status gizi BB/U balita menurut karakteristik responden:
1. Ditinjau dari kelompok umur, maka terlihat bahwa prevalensi balita gizi kurang+buruk di provinsiLampung sudah tinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan dan meningkat menjadi lebih tinggi mulai umur 24 bulan.
2. Menurut jenis kelamin terlihat bahwa masalah gizi kurang+buruk pada balita laki-laki lebih besar daripada balita perempuan. Begitu pula dengan masalah balita yang memiliki status gizi lebih.
3. Berdasarkan pendidikan kepala keluarga (KK) terlihat bahwa semakin rendah pendidikan KK maka semakin besar prevalensi balita gizi kurang+buruk. Sebaliknya, semakin tinggi pendidikan KK maka semakin tinggi prevalensi balita gizi lebih.
4. Pada keluarga dengan KK memiliki pekerjaan tetap (ABRI/Polri/PNS/BUMN/Swasta) ditemukan lebih banyak balita yang memiliki status gizi baik dibanding dengan jenis pekerjaan lainnya.
5. Menurut Tipe daerah, di desa jumlah balita yang gizi kurang+buruk lebih banyak daripada di kota, sebaliknya di kota jumlah balita yang gizi lebih lebih banyak daripada di desa.
6. Dilihat dari pendapatan keluarga per kapita per bulan, maka jumlah balita yang gizi kurang+buruk meningkat seiring dengan menurunnya pendapatan keluarga atau dengan kata lain semakin rendah kuintil pendapat keluarga semakin banyak jumlah balita yang gizi kurang+buruk. Sebaliknya semakin tinggi kuintil pendapatan keluarga semakin banyak jumlah balita yang berstatus gizi lebih.


Status gizi TB/U balita menurut karakteristik responden:
1. Prevalensi balita pendek+sangat pendek cenderung meningkat seiring bertambahnya umur balita. Namun demikian prevalensi balita pendek+sangat pendek sudah tinggi pada umur di bawah 6 bulan yaitu 42,81%.
2. Berdasarkan jenis kelamin, terlihat prevalensi balita laki-laki yang pendek+sangat pendek lebih tinggi dibanding dengan balita perempuan.
3. Ditinjau dari segi pendidikan KK, terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan KK semakin rendah prevalensi balita pendek+sangat pendek.
4. Menurut pekerjaan utama KK jelas terlihat bahwa pada keluarga yang kepala keluarganya memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (PNS/ABRI/POLRI/ BUMN/Swasta) prevalensi balita pendek+sangat pendek lebih rendah dibandingkan dengan keluarga yang KK nya memiliki perkerjaan lainnya yang umumnya berpenghasilan tidak tetap.
5. Berdasarkan Tipe daerah, prevalensi balita pendek+sangat pendek yang tinggal di kota lebih tinggi dari balita yang tinggal di desa.
6. Kaitan antara tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan dengan masalah balita pendek+sangat pendek terlihat memiliki kecenderungan yang negatif. Dengan kata lain semakin tinggi kuintil pengeluaran keluarga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi balita pendek+sangat pendek.


Status gizi BB/TB balita menurut karakteristik responden:
1. Prevalensi balita kurus+sangat kurus cenderung meningkat sampai anak berumur 48 bulan. Sebaliknya prevalensi balita gemuk semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur anak. Prevalensi balita gemuk tertinggi pada umur kurang dari 12 bulan.
2. Prevalensi balita kurus+sangat kurus pada balita laki-laki lebih tinggi dari prevalensi balita perempuan. Sebaliknya balita perempuan yang gemuk lebih banyak dari bayi laki-laki.
3. Tidak ditemukan pola hubungan yang jelas antara tingkat pendidikan KK dengan prevalensi balita kurus+sangat kurus. Demikian pula halnya antara pekerjaan utama KK .
4. Tidak ditemukan perbedaan prevalensi balita kurus+sangat kurus yang berarti berdasarkan karakteristik Tipe daerah, tetapi dalam hal masalah balita gemuk di daerah perkotaan cenderung lebih tinggi dari di daerah perdesaan.
5. Dalam kaitannya dengan kuintil pengeluaran keluarga per kapita per bulan terlihat ada kecenderungan prevalensi balita kurus+sangat kurus semakin rendah dengan semakin tinggi kuintil pengeluaran keluarga. Sebaliknya prevalensi balita gemuk semakin tinggi dengan semakin meningkatnya kuintil.
Tabel 3.7
Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, Riskesdas 2007

Gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang), TB/U (pendek), BB/TB (kurus). Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.
Secara umum prevalensi gizi kurang+buruk di Provinsi Lampung (16,5%) sudah mencapai target program perbaikan gizi pada RPJM 2015 (20%). Masih ada 2 kabupaten yang belum mencapai target MDG’s (18,5%) yaitu Kabupaten Tanggamus dan Lampung Utara. Sedangkan yang belum mencapai target nasional sebesar 20% adalah kabupaten Lampung Utara (23,2%).
Masalah gizi utama yang dihadapi Provinsi Lampung adalah masalah gizi kronis dengan prevalensi balita pendek+sangat pendek yang tinggi (>20%). Di antara 10 kabupaten, ada 6 kabupaten yang masalah gizi kronisnya di atas prevalensi nasional (>36,8%) yaitu Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Timur, Lampung Utara, Way Kanan dan Tulang Bawang.

3.1.2 Status Gizi Penduduk Umur 6-14 tahun (Usia Sekolah)
Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus, apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata, dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2SD nilai rerata standar WHO 2007

Berdasarkan standar WHO di atas, secara keseluruhan di Provinsi Lampung prevalensi kurus adalah 12,6% pada laki-laki dan 11,1% pada perempuan. Menurut provinsi, Provinsi Lampung mempunyai prevalensi kekurusan tertinggi pada anak laki-laki berada di kabupaten Tulang Bawang (15,8%) diikuti oleh Tanggamus (15,6%), sedangkan prevalensi kekurusan terendah di Lampung Utara yaitu 9,0%. Sedangkan pada anak perempuan prevalensi kekurusan tertinggi berada pada Kabupaten Lampung Timur (14,5%) dan terendah berada di kota Metro yaitu 3,2%.
Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di kabupaten Lampung Utara yaitu baik pada anak laki-laki (24,1%) maupun anak perempuan(18,0%). Prevalensi BB-lebih terendah berada di kabupaten Lampung Tengah (5,5%) pada anak laki-laki dan kabupaten Tanggamus (2,6%) pada anak perempuan.

3. 1.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas
Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut :
BB (kg)/TB(m)2.
Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas :
Kategori kurus IMT < 18,5
Kategori normal IMT >=18,5 - <24,9
Kategori BB lebih IMT >=25,0 - <27,0
Kategori obese IMT >=27,0

Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0,1 cm. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 - 45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA). Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0,1 cm.

a. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT)
Tabel 3.10 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masing-masing provinsi. Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese.
Secara umum prevalensi obesitas di Provinsi Lampung adalah 15,1% (7,7% BB lebih dan 7,7% obese) dan lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi nasional (19,1%). hanya terdapat 1 kabupaten/kota di Provinsi Lampung yang memiliki prevalensi lebih besar daripada prevalensi nasional, yaitu Kabupaten Lampung Barat (20,9%) dan kota Bandar Lampung (19,8%).
Tabel 3.10
Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa Diatas 15 Tahun Menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) Dan Kabupaten/Kota Di Provinsi Lampung, Riskesdas 2007
Kurus : IMT <18.5;>=27k

Prevalensi kegemukan (berat badan lebih+obese) pada orang dewasa di Provinsi Lampung dibawah angka 22%, yang berarti belum menjadi masalah. Kabupaten Lampung Barat memiliki prevalensi kegemukan pada orang dewasa yang tinggi. Dari 10 kabupaten di Provinsi Lampung, ada 3 diantaranya memiliki masalah obese yang tinggi dengan prevalensi di atas 10% yaitu: Kabupaten Lampung Barat, Kota Bandar Lampung dan Kota Metro.

Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3.11. Secara keseluruhan di Provinsi Lampung, prevalensi obesisitas umum pada laki-laki jauh lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 10,1% dan 20,3%).
Masalah obesitas pada penduduk dewasa laki-laki di Provinsi Lampung lebih rendah daripada angka nasional (13,9%) tetapi harus mulai diwaspadai karena prevalensinya sudah pada angka 10%. Terdapat 4 kabupaten/kota yang memiliki prevalensi obesitas pada laki-laki >10%, yaitu: Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Lampung Tengah, Kota Bandar Lampung dan Kota Metro.
Walaupun masalah obesitas pada orang dewasa perempuan di Provinsi Lampung juga berada di bawah angka nasional (23,8%), tetapi harus mendapat perhatian karena angkanya sudah mencapai >10% dan hal ini terjadi di semua kabupaten/kota. Terdapat 8 dari 10 kabupaten/kota dengan prevalensi obesitas yang tinggi (>15%), yaitu Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara, Bandar Lampung dan Metro. Sedangkan yang lebih tinggi dari angka nasional obesitas umum pada perempuan (> 23,8%) adalah kabupaten Lampung Barat (28,5%) dan Bandar Lampung (24,5%).





Prevalensi kegemukan berdasarkan karakteristik responden. RT yang tinggal di kota lebih besar dari yang tinggal di desa. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran pangan di rumah tangga (kuintil) semakin tinggi prevalensi kegemukan. Demikian pula menurut tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan ada kecenderungan prevalensi kegemukan semakin tinggi.

b. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP)
Prevalensi obesitas sentral menurut kabupaten/kota, dan karakteristik lain penduduk. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif. Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik, 2005).
Catatan: *) LP= lingkar perut ; L =Laki-laki ; P = Perempuan

Menurut pengukuran lingkar perut, secara umum obesitas sentral di Lampung sudah mulai menjadi masalah karena prevalensinya cukup tinggi. Semua kabupaten/kota di Provinsi Lampung berada di bawah angka nasional (18,8%). Prevalensi obesitas sentral tertinggi berada di kota Metro (18,3%) dan terendah di kabupaten Way Kanan (6,1%).
Catatan: *) LP= lingkar perut ; L =Laki-laki ; P = Perempuan

Menurut karakteristik responden di Provinsi Lampung, tidak terdapat kecenderungan yang jelas prevalensi obsesitas sentral berdasarkan kelompok umur. Prevalensi obesitas sentral pada responden perempuan lebih tinggi dibanding responden laki-laki. Menurut tingkat pendidikan, prevalensi obsesitas sentral tertinggi terdapat pada responden yang berpendidikan tamat perguruan tinggi (17,5%), tetapi tidak terdapat pola yang jelas antara tingkat pendidikan dengan kejadian obesitas sentral. Menurut pekerjaan responden, prevalensi obesitas sentral tertinggi terdapat pada ibu rumah tangga (21,2%). Pevalensi obesitas sentral pada responden yang tinggal di kota lebih tinggi dari responden yang tinggal di desa. Menurut pengeluaran rumah tangga, prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada responden yang berada pada kuintil lima.

C. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA)
Gambaran masalah gizi pada WUS yang diukur dengan LILA. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut kabupaten/kota dan karakteristik responden. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD, yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).

Prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.

Secara keseluruhan prevalensi KEK di Provinsi Lampung (10,9%) berada dibawah prevalensi nasional (13,6%). Dapat dilihat bahwa terdapat 5 kabupaten/kota dengan prevalensi di atas angka provinsi, yaitu Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara dan kota Metro. Terdapat 3 kabupaten/kota dengan prevalensi KEK di atas angka nasional, yaitu Kabupaten Lampung Timur (14,8%), Lampung Utara (21,8%) dan kota Metro (15,1%).

Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi Risiko KEK dengan karakteristik responden adalah:
Berdasarkan tingkat pendidikan, gambaran Provinsi Lampung menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD), risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT). Prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Gambaran provinsi juga menunjukkan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK. Kecuali pada kuintil 2 yang lebih tinggi dari kuintil 1 dan kuintil 3.

3.1.4 Konsumsi Energi dan Protein
Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.
Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT mengkonsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Sedangkan RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT mengkonsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.

Berdasarkan angka nasional menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735,5 kkal untuk energi dan 55,5 gram untuk protein.

Secara umum di Provinsi Lampung terdapat 82% rumah tangga dengan rerata konsumsi energi dan 73,7% rumah tangga dengan rerata konsumsi protein lebih rendah daripada angka rerata nasional dari data Riskesdas 2007. Angka persentase tersebut lebih tinggi dari angka persentase nasional (59 % untuk energi dan 58,5 % untuk protein).
Persentase terbanyak rumah tangga dengan rerata konsumsi energi dan protein lebih rendah daripada rerata konsumsi energi nasional adalah di Kabupaten Lampung Utara, masing-masing sebesar 90,2%. Persentase terendah rumah tangga dengan konsumsi energi yang lebih kecil dari rerata nasional adalah Kabupaten Lampung Selatan (74,7%). Sedangkan persentase tertinggi untuk konsumsi energi lebih rendah dari rerata nasional adalah di Kabupaten Lampung Barat (81,5%) dan tpersentase terendah terdapat di kabupaten Lampung Selatan (58,2%).
Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735,5 kkal)
dan Protein (55,5 gram) dari data Riskesdas 2007

Data mengenai rumah tangga dengan konsumsi energi dan protein lebih rendah daripada rerata konsumsi nasional menurut karakteristik responden di Provinsi Lampung. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga, tidak ada pola yang jelas mengenai konsumsi energi rumah tangga, sedangkan untuk konsumsi protein terlihat kecenderungan persentase rumah tangga dengan konsumsi protein lebih rendah dari rerata nasional yang semakin kecil pada kuintil 5.

3.1.5 Konsumsi Garam berIodium
Prevalensi konsumsi garam beriodium Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua; mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda; dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna.

Pada penulisan laporan ini yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3). Tabel 3.21 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Secara umum di Provinsi Lampung lebih 70 % rumah tangga yang mengkonsumsi garam berkadar iodium cukup, pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium. Kabupaten yang terendah dalam mengkonsumsi garam cukup iodium adalah Kabupaten Lampung Timur (55,4%), sedangkan kabupaten dengan persentase yang tertertinggi dalam mengkonsumsi garam cukup iodium serta telah mencapai target garam beriodium adalah Kabupaten Way Kanan (92,3%).

Persentase rumah-tangga yang memiliki garam cukup iodium (>30 ppm) menurut karakteristik responden. Penggunaan garam beriodium dengan katagori cukup cenderung semakin tinggi seiring dengan semakin tinggi pendidikan KK kecuali pada tingkat pendidikan SD tidak tamat yang presentasi mempunya garam iodiumnya lebih rendah dari tinggkat pendidikan tidak sekolah.
Pada keluarga dengan pekerjaan KK sebagai wiraswasta/swasta memiliki garam beriodium dalam kategori cukup lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pekerjaan lainnya. Tidak terdapat kecenderungan meningkatnya persentase rumah tangga yang mempunyai garam berdasarkan tingkat pengeluaran per bulan.

Rakeskedas 2007

Evaluasi

Evaluasi Program